![]() |
| Pict: Lovemoment |
Kencan
(Irene Fitriana Wahyuni)
Tik tok! Tik tok! Tik
tok!
Entah sudah kali
keberapa aku mengintip jam yang bertengger di lengan kiriku. Puluhan kali?
Ratusan kali? Ah, terlalu sering aku meliriknya sampai-sampai tak bisa kuhitung
jumlahnya. Sepertinya, kalau jam ini bisa bicara, dia pasti memprotes dan menolak
untuk dilirik lagi dan lagi. Atau mungkin dia akan memilih pensiun dari
tugasnya.
Ada yang bilang
menunggu itu menyebalkan. Saking menyebalkannya sampai-sampai kau nyaris
memakan orang yang membuatmu menunggu hingga jamuran. Benar sih, menunggu itu menyebalkan. Tapi
untuk yang satu ini aku membuat pengecualian. Walaupun aku sudah dipenuhi
jamur, aku akan tetap menunggunya.
Menunggu gadisku.
Kubiarkan kedua kakiku
melangkah tak tentu arah, sekedar untuk mencari kesibukan diantara waktu yang merangkak
perlahan. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, lalu aku kembali ke titik
awalku. Mengambil tiga langkah lagi, kemudian kembali ke tempat semula. Begitu
seterusnya hingga aku terlihat seperti sebuah setrika. Sampai aku tersadar,
sepasang mata kecil berkedip-kedip memperhatikan gerak-gerikku.
Dari tempatnya
bertengger, hewan kecil itu menggerakkan kepalanya, mungkin burung itu
bertanya-tanya apa yang sedang manusia besar ini lakukan? Kenapa dia tidak bisa
diam di tempatnya dengan tenang? Atau bertanya kenapa orang aneh ini berada
disini, di daerahku?
Seandainya aku berada
di posisi burung itu, aku juga akan menanyakan hal yang sama. Tapi untungnya
aku tidak harus menjawab pertanyaan-pertanyaan itu karena dia hanya seekor
burung. Lagipula, jika aku bicara kepadanya tentang apa yang kurasakan
sekarang, apakah dia akan mengerti? Apa dia akan mengerti betapa gelisahnya aku
saat menunggu kedatangan gadis yang berhasil mencuri hatiku? Apa dia bisa
membantuku memutar waktu agar aku segera bertemu pujaan hatiku?
Langit di atasku terhampar
cerah. Titik-titik awan putih datang dan pergi seperti gulungan kapas tertiup
angin. Kubiarkan imajinasiku bermain bersama awan. Membentuknya menjadi bentuk
apapun yang terlintas di kepalaku. Seekor Pegasus, cupid, lumba-lumba, bahkan
wajah gadisku yang sedang tersenyum.
Ah~ menunggu gadisku
membuatku makin gila.
Aku tidak akan
menyalahkan siapa-siapa untuk setiap menit yang kubuang untuk menunggunya
disini. Bukan salahnya jika aku menunggu terlalu lama. Pasalnya aku sendiri
yang memutuskan untuk datang lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Karena aku
merasa akan semakin gila jika harus menunggu di rumah.
Kembali kuintip jam di
tanganku. Masih tersisa beberapa menit menuju waktu yang ditentukan. Tanpa
menghiraukan sang burung yang masih mengawasiku, aku kembali bergerak mondar-mandir
seraya merapikan blazer yang kukenakan di atas kaus bergaris hitam dan putih
dengan aksen tetesan air pemberian darinya. Sampai inderaku menangkap suara
yang sudah tak asing lagi.
“Jimin oppa!”
Kontan aku memutar
badanku agar bisa melihat si empunya suara merdu itu. Ini memang bukan kencan
pertama kami, tapi aku selalu merasa seperti ada ribuan kupu-kupu beterbangan
dalam perutku. Dadaku bergemuruh, seperti dihantam ombak yang bergulung-gulung.
Saat dia berjalan mendekat, tanpa aku sadari kedua ujung bibirku terangkat
membentuk sebuah senyuman. Senyuman yang merekah. Dan aku merasakan pipiku
terbakar.
“Kenapa melihatku
seperti itu?”
Kuabaikan pertanyaannya
hanya untuk menikmati pesonanya lebih lama. Mata. Hidung. Bibir. Aku tidak tahu
mana diantara mereka yang membuat wajah ini begitu sempurna. Sejauh yang aku
tahu, aku selalu ingin melihatnya dari dekat, seperti sekarang.
“Oppa… ada apa? Apa ada yang salah denganku? Atau oppa marah, karena aku terlambat?”
“Iya, aku marah.” Ayolah,
berbohong seperti ini lebih sulit dari yang pernah aku bayangkan. Disisi lain
aku harus bersusah payah menahan tawa saat melihat ekspresinya berubah
menyesal.
Sangat menggemaskan.
Dan aku mencintainya.
“Maaf.” Dia merunduk,
menatap converse merah yang menjadi alas kakinya dan ini kesempatanku untuk
melepaskan tawa yang tertahankan. Meskipun aku tidak bisa melepaskan
sepenuhnya. “Maafkan aku, lain kali aku akan berusaha lebih keras agar aku
tidak terlambat seperti ini.” Imbuhnya.
Oh Tuhan, aku tak bisa
menahan tawa lebih lama lagi.
“Tatap aku!” Matanya
bergerak mencari mataku dengan patuh. “Aku tidak marah karena kamu datang
terlambat…” Karena memang kamu tidak
terlambat. Aku ingin mengatakannya, tapi harus kutahan. Kubiarkan jemari
tanganku menyusuri setiap lekuk wajahnya yang sempurna di mataku.
“Lalu, kau marah karena
apa?” Tanyanya.
“Aku marah karena…”
Kubiarkan kalimatku tertahan hanya untuk meraih jemari tangannya yang tak
pernah bosan untuk kugenggam, sebelum akhirnya berkata, “karena kamu selalu
membuatku ingin memelukmu.” Pada akhirnya senyum jenakaku terbebas saat
kusadari ada secercah rona kemerahan di pipinya. Dan sejurus kemudian aku telah
menariknya ke dalam pelukanku seraya membisikkan kalimat “Aku mencintaimu” di
telinganya. Aku yakin, pipinya sekarang bertambah merah. Semerah udang rebus.
***
(21 Februari 2015 – 11.54 PM)
Note: Harusnya aku menulis book report untuk Mata
Kuliah Sosiologi Pendidikan yang harus dikumpulkan tanggal 24 nanti. Tapi… aku
malah membiarkan imajinasiku menang dan mengabaikan tugasku. Bagus!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar