Jumat, 19 Juni 2015

[FlashFiction] Kencan (Park Jimin 'BTS)


Pict: Lovemoment



Kencan

(Irene Fitriana Wahyuni)




Tik tok! Tik tok! Tik tok!

Entah sudah kali keberapa aku mengintip jam yang bertengger di lengan kiriku. Puluhan kali? Ratusan kali? Ah, terlalu sering aku meliriknya sampai-sampai tak bisa kuhitung jumlahnya. Sepertinya, kalau jam ini bisa bicara, dia pasti memprotes dan menolak untuk dilirik lagi dan lagi. Atau mungkin dia akan memilih pensiun dari tugasnya.

Ada yang bilang menunggu itu menyebalkan. Saking menyebalkannya sampai-sampai kau nyaris memakan orang yang membuatmu menunggu hingga jamuran. Benar sih, menunggu itu menyebalkan. Tapi untuk yang satu ini aku membuat pengecualian. Walaupun aku sudah dipenuhi jamur, aku akan tetap menunggunya.

Menunggu gadisku.

Kubiarkan kedua kakiku melangkah tak tentu arah, sekedar untuk mencari kesibukan diantara waktu yang merangkak perlahan. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, lalu aku kembali ke titik awalku. Mengambil tiga langkah lagi, kemudian kembali ke tempat semula. Begitu seterusnya hingga aku terlihat seperti sebuah setrika. Sampai aku tersadar, sepasang mata kecil berkedip-kedip memperhatikan gerak-gerikku.

Dari tempatnya bertengger, hewan kecil itu menggerakkan kepalanya, mungkin burung itu bertanya-tanya apa yang sedang manusia besar ini lakukan? Kenapa dia tidak bisa diam di tempatnya dengan tenang? Atau bertanya kenapa orang aneh ini berada disini, di daerahku?

Seandainya aku berada di posisi burung itu, aku juga akan menanyakan hal yang sama. Tapi untungnya aku tidak harus menjawab pertanyaan-pertanyaan itu karena dia hanya seekor burung. Lagipula, jika aku bicara kepadanya tentang apa yang kurasakan sekarang, apakah dia akan mengerti? Apa dia akan mengerti betapa gelisahnya aku saat menunggu kedatangan gadis yang berhasil mencuri hatiku? Apa dia bisa membantuku memutar waktu agar aku segera bertemu pujaan hatiku?

Langit di atasku terhampar cerah. Titik-titik awan putih datang dan pergi seperti gulungan kapas tertiup angin. Kubiarkan imajinasiku bermain bersama awan. Membentuknya menjadi bentuk apapun yang terlintas di kepalaku. Seekor Pegasus, cupid, lumba-lumba, bahkan wajah gadisku yang sedang tersenyum.

Ah~ menunggu gadisku membuatku makin gila.

Aku tidak akan menyalahkan siapa-siapa untuk setiap menit yang kubuang untuk menunggunya disini. Bukan salahnya jika aku menunggu terlalu lama. Pasalnya aku sendiri yang memutuskan untuk datang lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Karena aku merasa akan semakin gila jika harus menunggu di rumah.

Kembali kuintip jam di tanganku. Masih tersisa beberapa menit menuju waktu yang ditentukan. Tanpa menghiraukan sang burung yang masih mengawasiku, aku kembali bergerak mondar-mandir seraya merapikan blazer yang kukenakan di atas kaus bergaris hitam dan putih dengan aksen tetesan air pemberian darinya. Sampai inderaku menangkap suara yang sudah tak asing lagi.

“Jimin oppa!”

Kontan aku memutar badanku agar bisa melihat si empunya suara merdu itu. Ini memang bukan kencan pertama kami, tapi aku selalu merasa seperti ada ribuan kupu-kupu beterbangan dalam perutku. Dadaku bergemuruh, seperti dihantam ombak yang bergulung-gulung. Saat dia berjalan mendekat, tanpa aku sadari kedua ujung bibirku terangkat membentuk sebuah senyuman. Senyuman yang merekah. Dan aku merasakan pipiku terbakar.

“Kenapa melihatku seperti itu?”

Kuabaikan pertanyaannya hanya untuk menikmati pesonanya lebih lama. Mata. Hidung. Bibir. Aku tidak tahu mana diantara mereka yang membuat wajah ini begitu sempurna. Sejauh yang aku tahu, aku selalu ingin melihatnya dari dekat, seperti sekarang.

Oppa… ada apa? Apa ada yang salah denganku? Atau oppa marah, karena aku terlambat?”

“Iya, aku marah.” Ayolah, berbohong seperti ini lebih sulit dari yang pernah aku bayangkan. Disisi lain aku harus bersusah payah menahan tawa saat melihat ekspresinya berubah menyesal.

Sangat menggemaskan.

Dan aku mencintainya.

“Maaf.” Dia merunduk, menatap converse merah yang menjadi alas kakinya dan ini kesempatanku untuk melepaskan tawa yang tertahankan. Meskipun aku tidak bisa melepaskan sepenuhnya. “Maafkan aku, lain kali aku akan berusaha lebih keras agar aku tidak terlambat seperti ini.” Imbuhnya.

Oh Tuhan, aku tak bisa menahan tawa lebih lama lagi.

“Tatap aku!” Matanya bergerak mencari mataku dengan patuh. “Aku tidak marah karena kamu datang terlambat…” Karena memang kamu tidak terlambat. Aku ingin mengatakannya, tapi harus kutahan. Kubiarkan jemari tanganku menyusuri setiap lekuk wajahnya yang sempurna di mataku.

“Lalu, kau marah karena apa?” Tanyanya.

“Aku marah karena…” Kubiarkan kalimatku tertahan hanya untuk meraih jemari tangannya yang tak pernah bosan untuk kugenggam, sebelum akhirnya berkata, “karena kamu selalu membuatku ingin memelukmu.” Pada akhirnya senyum jenakaku terbebas saat kusadari ada secercah rona kemerahan di pipinya. Dan sejurus kemudian aku telah menariknya ke dalam pelukanku seraya membisikkan kalimat “Aku mencintaimu” di telinganya. Aku yakin, pipinya sekarang bertambah merah. Semerah udang rebus.

***


(21 Februari 2015 – 11.54 PM)
Note: Harusnya aku menulis book report untuk Mata Kuliah Sosiologi Pendidikan yang harus dikumpulkan tanggal 24 nanti. Tapi… aku malah membiarkan imajinasiku menang dan mengabaikan tugasku. Bagus! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar