Crazy, Stupid Dream
Pagi
yang cerah dengan semburat keemasan dari sang mentari pagi ternyata tak
mengurangi rasa kantuk yang menyelimuti tubuhku. Beberapa kali kudapati diriku
menguap dalam sepuluh menit terakhir. Pelajaran Fisika tak ubahnya sebuah lagu
pengantar tidur. Tak hanya aku yang tersihir olehnya. Hampir seluruh penghuni
kelas tertunduk lesu. Bahkan ada anak yang terang-terangan tertidur. Besar juga
nyalinya. Pikirku.
Aku
mengedarkan pandangan ke setiap penjuru kelas berniat mengusir rasa kantuk yang
bergelayutan di atas kelopak mataku. Satu saja tiupan angin membelainya, aku
pasti sudah tersungkur kemeja dan tertidur. Merasakan indahnya alam mimpi.
Berlarian di taman bunga di musim semi.
Terbang bersama kupu-kupu yang tak mau ketinggalan menikmati musim semi
yang indah.
Seorang
pemuda datang menghampiriku. Aku menyipitkan mata untuk melihat siapa pemuda
itu. Dari kejauhan wajahnya tampak samar. Begitu dia mendekart, barulah aku
tahu siapa dia. Itu Jungkook. Dia masih satu kelas denganku.
Dia
tersenyum diantara langkahnya. Manis sekali. Dengan wajahnya yang tampan tanpa
sedikitpun batu kerikil. Sosoknya membuatku terpesona, sungguh sosok seorang pemuda
idaman.
“Hai,”
Begitu dia menyapa. Suara baritone nya membelai gendang telingaku. Membuatku
bergidik. Aku berdo’a agar Tuhan
memberiku kekuatan extra. Tapi aku tetap
meleleh. Rasa-rasanya lututku melemas saat menatap dua manic coklat itu.
Jantungku berdegup tak karuan. Seperti ditendang-tendang Troll yang berusaha
melepaskan diri dari kurungan.
“Hei
juga.” Balasku. Bodohnya, itu terdengar manja. Seperti menggoda.
Ia
tertawa ringan. Mungkin karena kekonyolan yang aku timbulkan. Dan sepertinya ia
memang tertawa untuk itu.
“Apa
yang sedang kau lakukan disini?” Tanyanya dengan santai. Demi Tuhan, dia keren
sekali. Aku tidak perlu mendeskripsikan terlalu jauh. Karena dia
benar-benar… keren. Titik!
“Berdiri
di antara bunga-bunga yang bermekaran di musim semi.” Jawabku. Lagi-lagi dia
terkekeh. Andai saja aku bisa berkata : “Berhenti tertawa, bung. Kau membuatku
menyukaimu.” Akan kukatakan. Sayangnya aku tak punya nyali untuk itu.
“Kenapa
kau tertawa?” Kali ini aku yang bertanya. Dia memberikan jeda yang panjang.
Membuatku bingung, apakah dia sedang berpikir untuk menjawabnya atau tidak.
Pada akhirnya yang ia lakukan hanya menatapku. Matanya memaksa agar aku juga
balas menatapnya. Tapi itu tak berlanjut lama, aku terlalu lemah jika harus
menatap ke dalam matanya. Sorot matanya terlalu menusuk.
“Aku
tidak menyuruhmu menatapku. Aku hanya bertanya, ‘kenapa kau tertawa?’” Aku mengulangi
pertanyaanku dengan suara bergetar. Berdoalah semoga ia tidak mengetahui
rahasia kecil itu.
“Kau
gugup.”
“Tidak!”
Pekikku cepat. ‘Iya, aku gugup, bung. Berhentilah menatapku seperti itu.’
“Itu
pernyataan, bukan pertanyaan. Tidak usah kau jawab.”
“Hei,
kenapa kau menyebalkan sekali?”
“Aku
menyukaimu.” Ujarnya santai, tapi tersirat keseriusan dari caranya bicara.
“…”
“Aku
ingin kau menjadi kekasihku.”
Apa?
Apa
yang dia katakan?
Oh
tidak!
Seseorang,
tolong aku. Aku kehilangan keseimbangan. Aku kehilangan gravitasi. Aku terbang
seperti burung tapi tetap menyentuh tanah.
“Jawabannya
ada padamu. Hanya ada ‘Ya’ dan ‘tidak’”
“Itu
pernyataan, bukan pertanyaan. Kau tidak memerlukan jawaban apapun dariku.” Aku
tersenyum puas. Sangat puas. Rasakan itu bung, kedudukannya seri.
“Kau
meng-copy kalimatku. Dan itu sebuah pelanggaran.” Ujarnya dengan suara
yang—entah mengapa membuatku sesak. “Jangan membuatku menunggu lama.” Tambahnya.
Ibu jarinya yang dingin mengusap lembut pipiku. Membuat bulu kudukku meremang.
Aku tak bisa berkata-kata. Lidahku kelu. Jantungku berdegup semakin cepat
membuat perutku mulas. Dan tanpa aku sadari—oh Tuhan—aku menganggukkan
kepalaku.
Dia
tersenyum. Lalu mendaratkan sebuah kecupan di keningku. Kemudian ia membawa
tubuhku ke dalam dekapannya. Aku tidak pernah merasa tubuhku kecil. Tapi dalam
pelukannya, membuatku aman. Aku merasakan ketenangan saat menghirup aroma
tubuhnya. Sesaat, aku berharap waktu berhenti. Aku ingin tetap seperti ini. Di
dalam pelukannya. Selamanya.
“Nanti
malam jam tujuh, aku akan menjemputmu. Ini kencan pertama kita, jangan sampai
lupa.” Jungkook berkata tanpa melepaskan pelukannya.
“Terserah,
asal kau tidak menyuruhku menggunakan high
heels.”
Dia
terkekeh, “Baiklah kita sepakat.” Kemudian aku merasakan puncak kepalaku
dikecup olehnya.
Segalanya
menjadi buyar saat sebuah suara memanggil namaku. Semuanya bergerak dengan
cepat sampai aku tak ingat lagi apa yang terjadi. Sekarang aku berada di
tengah-tengah orang dengan balutan seragam sekolah. Duduk di belakang meja dengan
buku Fisika yang terbuka. Beberapa kali aku mengerjapkan mataku dan melihat
papan tulis yang sekarang penuh dengan rumus.
Kusisir
seluruh ruangan dengan mata sayu. Saat aku mendapati sosok tampan yang duduk di
barisan depan, barulah aku sadar…
Aku
sudah kembali ke dunia nyata.
“Kenapa
kau membangunkanku sekarang? Bahkan aku belum sempat bersiap untuk kencan
pertamaku.” Bisikku kesal kepada Jisoo. Bukannya mendapat jawaban, dia malah
memberiku sebuah isyarat yang aku sendiri tidak tahu apa maksudnya.
“Nah,
nona yang duduk di pojok sana!” Aku terkesiap. Sekarang aku tahu
alasannya. “Tolong jawab pertanyaan di
papan tulis.”
Aku
menelan ludah. Demi Tuhan, aku sama sekali tidak memperhatikan. Dan, apa itu di
sana? Ingin sekali aku menjawab ‘Maaf, Sonsaengnim, itu pernyataan, bukan pertanyaan. Jadi aku
tidak harus memberikan jawaban untuk anda’ Tidak, itu kalimat dalam mimpiku.
Dan ini bukan dalam dunia mimpi. Pria tua itu menginginkan jawabannya. Dan dia
menunggu.
“Ayolah,
aku tahu kau pasti bisa. Tak perlu sungkan di kelasku.”
“Tentu
saja aku tidak akan sungkan.” Aku berusaha tersenyum. “Aku hanya sedikit…
gugup.” Tambahku. Kembali aku mengedarkan pandangan. Berharap seseorang berbaik
hati mengacungkan tangannya dan menawarkan diri untuk menjawab pertanyaannya
untukku. Tapi tak seorangpun melakukannya. Bahkan Jisoo pun tidak melakukannya
sebagaimana seorang teman yang baik.
Mataku
berhenti pada sosok tampan Jungkook—kekasihku, di dalam mimpi—duduk. Dia mengangkat kertas bertuliskan
jawaban di bawah dagunya. Dia menatapku seolah berkata, ‘percayalah padaku. Ini jawaban yang benar.’ Kemudian ia mengangguk. Karena desakan sang
guru, aku pun membacakan jawaban di kertas.
Pria tua itu bertepuk tangan untukku dan mengucapkan selamat karena aku
berhasil menjawab pertanyaannya degan benar.
Bibirku
bergerak mengucapkan kalimat ‘terima kasih’ secara verbal namun tak bersuara.
Aku mengulum senyum saat mengingat kembali mimpiku bersamanya. Benar-benar mimpi yang aneh dan gila.
Tapi
sayang, aku belum sempat berkencan dengannya.
Hei,
pikiran macam apa itu!?
Sudahlah,
lupakan!
****
Note : Catatan sore hari saat teringat mimpi aneh beberapa minggu yang lalu… (21/12/2013)