Jumat, 26 Juni 2015

[MiniFiksi] 'Min Yoon Gi'

@bts_twt


Min Yoon Gi
(Irene Fitriana Wahyuni)

Kulirik pemuda yang tengah berbaring di sampingku berulang kali, dan setiap kalinya mataku mendapati gambaran wajah rupawan yang tengah menatap ke arahku. Kuakui perlakuannya itu agak membuatku risih, dan tidak nyaman. Pasalnya, aku adalah seorang gadis pemalu yang akan bersembunyi di balik punggung seseorang bila ada yang menatapku lamat-lamat seperti itu. Tapi kali ini, aku harus bersembunyi dimana? Pohon-pohon di taman ini jaraknya cukup jauh dariku. Kalaupun aku mau bersembunyi di balik pohon terdekat yang jaraknya dua atau tiga meter di depanku, pemuda yang bergelar kekasihku itu pasti sudah enangkap pergelangan tanganku dan memaksaku untuk tinggal di dekatnya lebih lama. Tentunya dia akan semakin menyiksaku dengan perasaan tidak nyaman yang dia buat.

“Berhenti menatapku seperti itu!” seruku akhirnya. Pemuda yang usianya terpaut dua tahun lebih tua dariku itu berguling di atas tikar piknik yang kami gelar. Lengan kirinya ia jadikan tumpuan bagi kepalanya yang masih menatapku.

“Kenapa?” desahnya menyatu dengan semilir angin sore.

“Jangan saja.” kataku, tak berani menatap langsung matanya.

“Cepat katakan,” dia memaksa, “atau aku akan menatapmu seperti ini sepanjang hari.”

Aku menoleh ke arahnya, merasa malu saat mata indah itu menangkap pandanganku dalam jarak tak lebih dari satu jengkal. Secepat kilat kualihakan pandanganku darinya, namun si empunya tatapan itu tak membiarkanku membidik direksi lain, kecuali dirinya.

“Katakan padaku, kenapa aku tidak diperbolehkan menatap wajah cantik kekasihku sendiri?” Ujarnya setengah berbisik, jemarinya bermain di daguku.

“Hanya saja, aku merasa tidak nyaman…” Kalimatku terhenti hanya untuk melihatnya tengah menungguku melanjutkan kalimatku. “Aku tidak nyaman jika harus menyembunyikan rona merah di pipiku, atau harus menahan senyum yang datang bersamanya saat kau menatapku seperti ini. Kau tahu, aku tidak pandai dalam keduanya. Jadi, aku mohon bantuanmu.”

Dia terkekeh. Sesaat saja aku bisa terlepas dari jeratannya saat mata indahnya berganti menjadi sebuah lengkungan garis tipis. “Dasar kau ini.” Dia mengacak rambutku, gemas. “Maaf saja, aku tidak bisa membantumu. Kenapa kau harus menyembunyikannya dariku, hmm? Lagipula aku menyukainya. Jadi, biarkan saja pipimu merona merah atau lepaskan saja senyum malumu itu. Kau mengerti?”


Aku mengangguk. Sedetik kemudian, dia menarikku ke dalam dekapannya. Aku beringsut, kepala kusenderkan pada lengan kirinya, senyum kami terkembang saat lagi-lagi pandangan kami berserobok. Lalu sayup-sayup kudengar ia berbisik di samping telingaku, mengalunkan beribu kata cinta yang tak pernah bosan untuk kudengar. Lengan lainnya menyelusup ke balik telingaku, menariknya untuk menyusutkan jarak diantara kami, kemudian ia menggenapkannya dengan mendaratkan sebuah kecupan manis di bibirku. 

Jumat, 19 Juni 2015

[MiniFiksi] 'Park Jimin'

Park Jimin
(Irene Fitriana Wahyuni)


'Hoaaammmhh!!!" berulang kali aku menguap, nyaris terjungkal ke dunia mimpi. Satu-satunya yang membuatku tetap terjaga adalah kenyataan bahwa aku belum menyelesaikan tugasku. Ingin kutinggalkan saja layar laptop di hadapanku, berpaling dari RPP yang belum kurampungkan.

Berpikir apa yang dilakukan Park Jimin, kekasihku, di dalam sana, membuatku memutuskan untuk berlari ke arahnya. Kuayunkan daun pintu, menampakan ranjang empuk tempat seharusnya ia menyenderkan dirinya, sembari membaca buku kesayangannya. Ia tak ada disana. Hatiku mencelus, bahuku melorot, aku ingin berteriak 'dimana Park Jimin-ku?!' namun kekecewaan ini menyerap habis seluruh tenagaku.

Sebelum aku berfikir untuk kembali, sepasang lengan kokoh dibalik pakaian hangatnya menyelinap di antara pinggangku, melingkar di perutku. Park Jimin memelukku dari belakang. Dia menahan langkahku. Dia juga mengembalikan semangat yang sempat pergi dari diri ini. Dagunya ia tempelkan pada bahuku, membuatku bergidik geli saat napas hangatnya membelai kulit leherku yang sensitif akan sentuhan sekecil apapun. Ia mendaratkan sebuah kecupan di balik telingaku.

"Mencariku?" Bisiknya dengan suaranya yang dalam, dan tak pernah bosan untuk kudengar.

Pipiku merona merah saat dia kembali mendaratkan kecupannya di pipiku dan memelukku dengan erat. Kubiarkan senyumku terkembang, hanya agar dia tahu, bahwa aku memang sedang mencarinya. Mencari cintaku.
___

Pict: Lovemoment

[FlashFiction] Kencan (Park Jimin 'BTS)


Pict: Lovemoment



Kencan

(Irene Fitriana Wahyuni)




Tik tok! Tik tok! Tik tok!

Entah sudah kali keberapa aku mengintip jam yang bertengger di lengan kiriku. Puluhan kali? Ratusan kali? Ah, terlalu sering aku meliriknya sampai-sampai tak bisa kuhitung jumlahnya. Sepertinya, kalau jam ini bisa bicara, dia pasti memprotes dan menolak untuk dilirik lagi dan lagi. Atau mungkin dia akan memilih pensiun dari tugasnya.

Ada yang bilang menunggu itu menyebalkan. Saking menyebalkannya sampai-sampai kau nyaris memakan orang yang membuatmu menunggu hingga jamuran. Benar sih, menunggu itu menyebalkan. Tapi untuk yang satu ini aku membuat pengecualian. Walaupun aku sudah dipenuhi jamur, aku akan tetap menunggunya.

Menunggu gadisku.

Kubiarkan kedua kakiku melangkah tak tentu arah, sekedar untuk mencari kesibukan diantara waktu yang merangkak perlahan. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, lalu aku kembali ke titik awalku. Mengambil tiga langkah lagi, kemudian kembali ke tempat semula. Begitu seterusnya hingga aku terlihat seperti sebuah setrika. Sampai aku tersadar, sepasang mata kecil berkedip-kedip memperhatikan gerak-gerikku.

Dari tempatnya bertengger, hewan kecil itu menggerakkan kepalanya, mungkin burung itu bertanya-tanya apa yang sedang manusia besar ini lakukan? Kenapa dia tidak bisa diam di tempatnya dengan tenang? Atau bertanya kenapa orang aneh ini berada disini, di daerahku?

Seandainya aku berada di posisi burung itu, aku juga akan menanyakan hal yang sama. Tapi untungnya aku tidak harus menjawab pertanyaan-pertanyaan itu karena dia hanya seekor burung. Lagipula, jika aku bicara kepadanya tentang apa yang kurasakan sekarang, apakah dia akan mengerti? Apa dia akan mengerti betapa gelisahnya aku saat menunggu kedatangan gadis yang berhasil mencuri hatiku? Apa dia bisa membantuku memutar waktu agar aku segera bertemu pujaan hatiku?

Langit di atasku terhampar cerah. Titik-titik awan putih datang dan pergi seperti gulungan kapas tertiup angin. Kubiarkan imajinasiku bermain bersama awan. Membentuknya menjadi bentuk apapun yang terlintas di kepalaku. Seekor Pegasus, cupid, lumba-lumba, bahkan wajah gadisku yang sedang tersenyum.

Ah~ menunggu gadisku membuatku makin gila.

Aku tidak akan menyalahkan siapa-siapa untuk setiap menit yang kubuang untuk menunggunya disini. Bukan salahnya jika aku menunggu terlalu lama. Pasalnya aku sendiri yang memutuskan untuk datang lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Karena aku merasa akan semakin gila jika harus menunggu di rumah.

Kembali kuintip jam di tanganku. Masih tersisa beberapa menit menuju waktu yang ditentukan. Tanpa menghiraukan sang burung yang masih mengawasiku, aku kembali bergerak mondar-mandir seraya merapikan blazer yang kukenakan di atas kaus bergaris hitam dan putih dengan aksen tetesan air pemberian darinya. Sampai inderaku menangkap suara yang sudah tak asing lagi.

“Jimin oppa!”

Kontan aku memutar badanku agar bisa melihat si empunya suara merdu itu. Ini memang bukan kencan pertama kami, tapi aku selalu merasa seperti ada ribuan kupu-kupu beterbangan dalam perutku. Dadaku bergemuruh, seperti dihantam ombak yang bergulung-gulung. Saat dia berjalan mendekat, tanpa aku sadari kedua ujung bibirku terangkat membentuk sebuah senyuman. Senyuman yang merekah. Dan aku merasakan pipiku terbakar.

“Kenapa melihatku seperti itu?”

Kuabaikan pertanyaannya hanya untuk menikmati pesonanya lebih lama. Mata. Hidung. Bibir. Aku tidak tahu mana diantara mereka yang membuat wajah ini begitu sempurna. Sejauh yang aku tahu, aku selalu ingin melihatnya dari dekat, seperti sekarang.

Oppa… ada apa? Apa ada yang salah denganku? Atau oppa marah, karena aku terlambat?”

“Iya, aku marah.” Ayolah, berbohong seperti ini lebih sulit dari yang pernah aku bayangkan. Disisi lain aku harus bersusah payah menahan tawa saat melihat ekspresinya berubah menyesal.

Sangat menggemaskan.

Dan aku mencintainya.

“Maaf.” Dia merunduk, menatap converse merah yang menjadi alas kakinya dan ini kesempatanku untuk melepaskan tawa yang tertahankan. Meskipun aku tidak bisa melepaskan sepenuhnya. “Maafkan aku, lain kali aku akan berusaha lebih keras agar aku tidak terlambat seperti ini.” Imbuhnya.

Oh Tuhan, aku tak bisa menahan tawa lebih lama lagi.

“Tatap aku!” Matanya bergerak mencari mataku dengan patuh. “Aku tidak marah karena kamu datang terlambat…” Karena memang kamu tidak terlambat. Aku ingin mengatakannya, tapi harus kutahan. Kubiarkan jemari tanganku menyusuri setiap lekuk wajahnya yang sempurna di mataku.

“Lalu, kau marah karena apa?” Tanyanya.

“Aku marah karena…” Kubiarkan kalimatku tertahan hanya untuk meraih jemari tangannya yang tak pernah bosan untuk kugenggam, sebelum akhirnya berkata, “karena kamu selalu membuatku ingin memelukmu.” Pada akhirnya senyum jenakaku terbebas saat kusadari ada secercah rona kemerahan di pipinya. Dan sejurus kemudian aku telah menariknya ke dalam pelukanku seraya membisikkan kalimat “Aku mencintaimu” di telinganya. Aku yakin, pipinya sekarang bertambah merah. Semerah udang rebus.

***


(21 Februari 2015 – 11.54 PM)
Note: Harusnya aku menulis book report untuk Mata Kuliah Sosiologi Pendidikan yang harus dikumpulkan tanggal 24 nanti. Tapi… aku malah membiarkan imajinasiku menang dan mengabaikan tugasku. Bagus!