![]() |
| @bts_twt |
Min Yoon Gi
(Irene Fitriana Wahyuni)
Kulirik
pemuda yang tengah berbaring di sampingku berulang kali, dan setiap kalinya
mataku mendapati gambaran wajah rupawan yang tengah menatap ke arahku. Kuakui
perlakuannya itu agak membuatku risih, dan tidak nyaman. Pasalnya, aku adalah
seorang gadis pemalu yang akan bersembunyi di balik punggung seseorang bila ada
yang menatapku lamat-lamat seperti itu. Tapi kali ini, aku harus bersembunyi
dimana? Pohon-pohon di taman ini jaraknya cukup jauh dariku. Kalaupun aku mau
bersembunyi di balik pohon terdekat yang jaraknya dua atau tiga meter di
depanku, pemuda yang bergelar kekasihku itu pasti sudah enangkap pergelangan
tanganku dan memaksaku untuk tinggal di dekatnya lebih lama. Tentunya dia akan
semakin menyiksaku dengan perasaan tidak nyaman yang dia buat.
“Berhenti
menatapku seperti itu!” seruku akhirnya. Pemuda yang usianya terpaut dua tahun
lebih tua dariku itu berguling di atas tikar piknik yang kami gelar. Lengan
kirinya ia jadikan tumpuan bagi kepalanya yang masih menatapku.
“Kenapa?”
desahnya menyatu dengan semilir angin sore.
“Jangan
saja.” kataku, tak berani menatap langsung matanya.
“Cepat
katakan,” dia memaksa, “atau aku akan menatapmu seperti ini sepanjang hari.”
Aku
menoleh ke arahnya, merasa malu saat mata indah itu menangkap pandanganku dalam
jarak tak lebih dari satu jengkal. Secepat kilat kualihakan pandanganku
darinya, namun si empunya tatapan itu tak membiarkanku membidik direksi lain,
kecuali dirinya.
“Katakan
padaku, kenapa aku tidak diperbolehkan menatap wajah cantik kekasihku sendiri?”
Ujarnya setengah berbisik, jemarinya bermain di daguku.
“Hanya
saja, aku merasa tidak nyaman…” Kalimatku terhenti hanya untuk melihatnya
tengah menungguku melanjutkan kalimatku. “Aku tidak nyaman jika harus
menyembunyikan rona merah di pipiku, atau harus menahan senyum yang datang
bersamanya saat kau menatapku seperti ini. Kau tahu, aku tidak pandai dalam
keduanya. Jadi, aku mohon bantuanmu.”
Dia
terkekeh. Sesaat saja aku bisa terlepas dari jeratannya saat mata indahnya
berganti menjadi sebuah lengkungan garis tipis. “Dasar kau ini.” Dia mengacak
rambutku, gemas. “Maaf saja, aku tidak bisa membantumu. Kenapa kau harus
menyembunyikannya dariku, hmm? Lagipula aku menyukainya. Jadi, biarkan saja
pipimu merona merah atau lepaskan saja senyum malumu itu. Kau mengerti?”
Aku
mengangguk. Sedetik kemudian, dia menarikku ke dalam dekapannya. Aku beringsut,
kepala kusenderkan pada lengan kirinya, senyum kami terkembang saat lagi-lagi
pandangan kami berserobok. Lalu sayup-sayup kudengar ia berbisik di samping
telingaku, mengalunkan beribu kata cinta yang tak pernah bosan untuk kudengar.
Lengan lainnya menyelusup ke balik telingaku, menariknya untuk menyusutkan
jarak diantara kami, kemudian ia menggenapkannya dengan mendaratkan sebuah
kecupan manis di bibirku.


